Makalah Kalimat Ambigu

Bisa langsung download disini



“Pemahaman vs Logika Bahasa
dalam Masyarakat”




Disusun oleh :
Nur Wahid
113200666
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia


Universitas 45 Surabaya
Fakultas Teknik
Jurusan Teknik Informatika
2011/2012




KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Segala puji penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia dengan judul ”Pemahaman vs Logika Bahasa dalam Masyarakat”. Tak lupa shalawat serta salam penulis curahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang merupakan pelopor bagi penulis.  
  
Penulis  sadar jika makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu mohon saran dan kritik untuk perbaikan. Penulis  juga mohon maaf apabila pada makalah ini masih banyak kesalahan dan penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia karena telah mengembankan tugas ini kepada penulis, sehingga memotivasi penulis untuk lebih banyak belajar dan juga menambah wawasan.

Atas perhatian yang telah diberikan. Penulis mengucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr.Wb       




Surabaya, 01 Desember  2011  
    

          Penulis



DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL....................................................................................................i
KATA PENGANTAR.................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii

BAB I  PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah………………………………………………….1
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………...2
1.3 Tujuan…………………………………………………………………….2

BAB II  PEMBAHASAN
2.1  Contoh – Contoh Pemahaman yang Bertolak Belakang dengan
       Logika Bahasa……………………...…………………………………….3
2.2    Letak Kesalahan Pemahaman
      dengan Kesesuaian  Logika Bahasa…………..…………………..............3

BAB III  PENUTUP
3.1    Kesimpulan………...…………………………………………………....10
3.2    Saran……………… ……………………………………………………10

DAFTAR PUSTAKA………..……………………………………………………...11




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa Indonesia yang kita beri status sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, dan bahasa Negara, berasal dari bahasa Melayu, yakni salah satu bahasa daerah di Nusantara yang pada awalnya digunakan penduduk pribumi di pantai timur Pulau Sumatera, Semenanjung Malaya. Dalam perkembangannya kemudian, bahasa Melayu ini telah menjadi Lingua Franca, yakni bahasa perhubungan di seluruh Nusantara. Lalu dalam perkembangannya itu, telah melahirkan sejumlah dialek regional dan dialek sosial serta berbagai ragam fungsional.
Sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, dan bahasa negara, bahasa Indonesia ini telah digunakan, namun hanya dalam kesempatan terbatas. Yaitu sebagai alat komunikasi antarsuku atau dalam situasi formal. Dalam kesempatan lain, sebagian besar bangsa Indonesia masih menggunakan bahasa daerahnya masing – masing. Hanya sebagian kecil saja yang telah menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari – hari. Keadaan ini menyebabkan kita, sebagai bangsa Indonesia, belum bisa dikatakan telah menggunakan bahasa Indonesia secara optimal, secara baik dan benar, baik semantik;  leksikal, gramatikal, kontekstual, maupun idiomatikal.
Dikatakan pemahaman vs logika dalam kesalahan semantik juga belum tepat sepenuhnya,  sebab bentuk – bentuk ujaran yang dikatakan kesalahan tersebut masih bisa dipahami oleh masyarakat umum dengan baik. Namun bila bentuk -  bentuk ujaran itu dipersoalkan menurut logika, maka akan menjadi sebuah persoalan. Umpamanya, ujaran seorang pengurus masjid sebelum salat Jumat dilakukan yang mengatakan, ”Yang membawa handphone harap dimatikan”, ujaran ini seratus persen bisa dipahami dan menimbulkan kesalahpahaman. Persoalan baru muncul kalau ada orang yang menanyakan logika bahasa, “ Yang harap dimatikan siapa, pemilik handphone, atau handphonenya”. Sehingga untuk memahami makna sebuah ajaran atau satuan bahasa tertentu, dan juga untuk bisa menuangkan konsep (makna) ke dalam suatu ujaran (satuan bahasa), banyak hal yang harus dipahami.
1.2 Rumusan masalah
Dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah :
1.    Apasaja contoh – contoh pemahaman yang bertolak belakang dengan logika bahasa dalam kehidupan masyarakat?
2.    Dimanakah letak kesalahan pemahaman dengan kesesuaian  logika bahasa tersebut?
1.3 Tujuan
Tujuan dari rumusan masalah ini adalah:
1.    Untuk mengetahui macam - macam pemahaman yang bertolak belakang dengan logika bahasa dalam kehidupan masyarakat.
2.    Untuk mempelajari berbagai macam kesalahan pemahaman dan logika bahasa.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Contoh – Contoh Pemahaman yang Bertolak Belakang dengan Logika Bahasa dalam Kehidupan Masyarakat:
     Hari Ini (Senin, Selasa, Rabu, atau Kamis?…)
     Digigit Nyamuk (Nyamuk punya gigi?...)
     Hati – hati Banyak Kecelakaan (Mana kecelakaannya?...)
     Pembelian Dua Truk Pasir (Yang dibeli truk atau pasir?...)
     Obat Nyamuk (Tidak menyembuhkan…)
     Warisan Anak Cucu (Atau warisan nenek moyang?...)
     Silakan Mencicipi (Boleh sepuasnya?...)
     Harap Dimatikan (Siapa yang harus mati?...)
     Terkaya dan Termiskin (Yang termiskin juga kaya…)

2.2    Letak Kesalahan Pemahaman dengan Kesesuaian  Logika Bahasa:
     HARI INI ~ Senin, Selasa, Rabu, atau Kamis?
Beberapa waktu lalu terjadi kericuhan di bagian administrasi kemahasiswaan IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta). Penyebabnya adalah adanya pengumuman “Pembacaan op scan mahasiswa jurusan x dilakukan hari ini.”
Mengapa pengumuman yang tampaknya lugas itu bisa menimbulkan kericuhan? Ternyata sumber kericuhan itu berawal dari kata hari ini yang berada pada akhir pengumuman itu. Mereka, para mahasiswa, yang datang keesokan hari setelah pengumuman itu dipasang tidak bisa dilayani oleh petugas administrasi dengan alasan sudah terlambat. Sedangkan para mahasiswa itu “ngotot” mengatakan tidak terlambat karena dalam pengumuman itu jelas disebutkan “….dilakukan hari ini”. Kata – kata hari ini yang tidak dilengkapi nama hari dan tanggal perlakuan memang akan menimbulkan kericuhan.
Mereka yang membaca pengumuman itu pada hari Senin akan menafsirkan hari ini adalah hari Senin. Begitu juga yang membaca pada hari Selasa, Rabu, Kamis, atau Jumat.

     DIGIGIT NYAMUK ~ Nyamuk punya gigi?
Seorang guru matematika, yang katanya selalu berpikir secara logis, atau pakai logika, dalam suatu diskusi berkata bahwa bahasa Indonesia seringkali tidak logis. Misalnya, apa benar ujaran digigit nyamuk, sebab nyamuk itu tidak punya gigi. Padahal untuk tindakan menggigit diperlukan adanya gigi.
Jalan pikiran sang guru matematika yang mengaku selalu berpikir logis itu, kalau dikaji secara logika memang benar. Kita memang tidak tahu apakah nyamuk itu punya gigi atau tidak. Untuk keperluan “makan” nyamuk menggunakan belalainya, (yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut jungur atau hidung yang panjang) untuk menghisap darah manusia atau darah hewan lain.
Namun dalam persoalan bahasa kita tidak selalu menemukan kelogisan. Mengapa? Karena bahasa dalam satuan – satuannya (kata, frase, atau kalimat) yang harus menyampaikan berbagai konsep, ide, perasaan, dan pikiran tidak selalu bisa satu lawan satu. Artinya, setiap konsep yang dimiliki manusia (yang jumlahnya sangat terbatas) dapat diberi wadah dalam satu satuan ujaran.


     HATI – HATI BANYAK KECELAKAAN ~ Mana kecelakaannya?
Di tepi jalan yang berkelok, menurun, licin di waktu hujan terpampang rambu lalu lintas bertuliskan: HATI – HATI BANYAK KECELAKAAN. Rambu yang cukup jelas dan berisi peringatan itu membuat para pengemudi menjadi berkonsentrasi penuh dan berhati – hati dalam mengemudi.
Seorang anak yang duduk disamping ayahnya yang sedang mengemudi, sesaat setelah membaca rambu itu bertanya kepada ayahnya, “Yah, mana kecelakaannya, katanya banyak kecelakaan disini, tapi mana?” Sang ayah yang sedang mengemudi kaget juga mendapat pertanyaan seperti itu.  Dia tidak bisa menjawab, bukan karena dia bisu, melainkan karena memang tidak tahu harus menjawab apa.
Pertanyaan yang sederhana dari seorang anak seperti itu memang tidak mudah dijawab karena cara berpikir seorang anak dan orang dewasa berbeda. Pilihan kata pada rambu itu memang kurang tepat, kurang mendukung konsep yang ingin disampaikan. Barangkali kata banyak pada rambu itu harus diganti dengan kata sering sehingga menjadi HATI – HATI SERING TERJADI KECELAKAAN.

     PEMBELIAN DUA TRUK PASIR ~ Yang dibeli truk atau pasir?
Sebelum shalat jamaah berlangsung pengurus masjid memberitahukan bahwa panitia pembangunan telah membeli dua truk pasir untuk keperluan pembangunan kubah. Seorang jamaah bergumam pelan, “yang dibeli truk pasir atau pasirnya”. Komentar seorang jamaah tersebut cukup menarik untuk ditelaah. Konstruksi membeli dua truk pasir memang bisa menyebabkan ambigu yang bermakna dua. Pertama yang dibeli bisa truknya, dan yang kedua adalah pasirnya.
Dalam kasus ini keambiguan itu disebabkan oleh dua hal. Pertama, satuan untuk benda tidak terhitung seperti pasir. Kedua, penyebab keambiguan itu adalah dalam mengucapkan konstruksi itu salah menempatkan jeda. Dalam bahasa tulis, yang tidak punya intonasi, kemungkinan untuk terjadinya keambiguan itu besar sekali. Namun, menurut pedoman EYD (Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan) kita dapat menghindari keambiguan itu dengan meletakkan tanda hubung di antara dua buah kata yang merupakan satu kesatuan. Misalnya pembelian dua truk – pasir atau pembelian dua buah truk pasir atau bisa juga pembelian pasir dua truk.

     OBAT NYAMUK ~ Tidak Menyembuhkan
Harian Media Indonesia pada awal tahun 2005 pada kolom “ulasan bahasa” menyajikan tulisan seorang pakar bahasa mengenai kata obat pada frase obat nyamuk. Menurut pakar tersebut penggunaan kata obat pada frase obat nyamuk adalah keliru, karena ternyata nyamuk – nyamuk yang diberi obat tersebut bukan menjadi sehat, melainkan menjadi mati.
Oleh karena itu obat pada frase obat nyamuk itu perlu diganti dengan kata racun menjadi racun nyamuk. Dengan demikian, dengan mengganti kata obat dengan kata racun pada frase obat nyamuk itu, kita telah menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, benar, dan bernalar. Begitulah pendapat si pakar bahasa itu. Untuk membuktikannya apakah hal itu benar, kita perlu mengumpulkan semua frase yang menggunakan kata obat, lalu menganalisis, mengklasifikasikan, dan menarik kesimpulan.

     WARISAN ANAK CUCU ~ Atau Warisan Nenek Moyang?
Krisis minyak nasional yang melanda negeri kita pada pertengahan tahun 2005 ini menyebabkan pemerintah menghimbau kita untuk menghemat penggunaan BBM. Himbauan itu disiarkan melalui siaran televise, radio, surat kabar, dan juga melalui kain rentang. Kain rentang yang berisi himbauan ini bertuliskan : MARI KITA HEMAT BBM SEBAGAI WARISAN ANAK CUCU KITA dan banyak terpampang diseberang tempat, terutama dipagar – pagar SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum).
 Seorang penumpang angkot bertanya kepada temannya, itu tulisan “warisan anak cucu kita” apa benar? Bukankah mestinya warisan nenek moyang kita?
Pertanyaan itu sungguh menarik. Inti masalahnya adalah apa makna “ warisan anak cucu kita” itu dan apa bedanya dengan “warisan nenek moyang”.
Hanya barangkali agar lebih jelas maknanya lebih baik kalau frase warisan dari nenek moyang dieksplisitkan menjadi warisan dari nenek moyang; dan frase warisan anak cucu dieksplisitkan menjadi warisan untuk anak cucu. Maka himbauan itu ditulis menjadi : MARI KITA HEMAT BBM SEBAGAI WARISAN UNTUK ANAK CUCU KITA.

     SILAKAN MENCICIPI ~ Boleh Sepuasnya?
Pembawa acara dalam suatu resepsi pernikahan berkata, “Setelah memberi doa restu hadirin dipersilakan mencicipi hidangan yang disediakan.” Menanggapi ujaran ini seorang tamu ketika melihat temannya mengambil begitu banyak makanan sampai piringnya penuh berkata kepada temannya dengan nada bergurau, “Kamu dengar tidak kata pembawa acara tadi, kita Cuma disuruh mencicipi hidangan, bukan makan! Tahu tidak bedanya mencicipi dengan makan?” Temannya lalu menjawab sambil tertawa, “Ah masa bodohlah. Saya lapar, belum sarapan!”
Apa yang dikatakan tamu itu secara lugas memang benar, dan jawaban temannya juga benar. Namun, karena diucapkan dengan nada bergurau kita pun tahu, bahwa dibalik ucapan itu ada sesuatu yang secara implisit sudah dipahami. Sesuatu itu adalah dikenal dengan istilah eufimisme. Apa sebenarnya eufimisme itu? Eufimisme adalah sikap dari seseorang yang diwujudkan dalam bentuk ujaran yang menyatakan kerendahan hati.
Kiranya dapat dipastikan bahwa ucapan si pembawa acara dalam resepsi pernikahan itu yang berbunyi “Dipersilakan mencicipi hidangan yang disediakan”, tidaklah harus dipahami secara harfiah, sebab ucapan seperti itu merupakan bagian dari sistem budaya kita yang eufimistik.

     HARAP DIMATIKAN ~ Siapa Yang Harus Mati?
Sebelum Salat Jumat dimulai, seorang pengurus masjid mengumumkan kepada para jamaah: Yang membawa handphone harap dimatikan. Isi pengumuman itu cukup jelas bagi seluruh jamaah, bahwa selama Salat Jumat berlangsung, semua handphone supaya tidak diaktifkan.
Salah seorang jamaah bergumam” Gimana sih bahasanya, masa yang membawa HP harus dimatikan”. Bila disimak dengan baik, apa yang dikatakan oleh jamaah itu benar juga. Kalau kita analisis kalimat “Yang membawa handphone harap dimatikan”, maka subjek dalam kalimat itu adalah “yang membawa handphone”, dan predikatnya adalah “harap dimatikan”.
Jadi, jelas yang harus dimatikan adalah yang membawa handphone, orangnya, bukan barangnya. Namun mengapa orang bisa mengerti bahwa yang harus dimatikan adalah handphonenya, bukan orangnya.
Kiranya orang bisa memahami bahwa yang harus dimatikan adalah handphonenya dan bukan orangnya adalah bukan semata – mata dari satuan ujaran yang tampak diucapkan, melainkan juga dari konteks situasinya. Seharusnya kalimat tersebut berbunyi :
(1)    Yang membawa handphone harap dimatikan handphonenya.
(2)    Kepada yang membawa handphone diharapkan agar handphonenya dimatikan.

     TERKAYA DAN TERMISKIN ~ Yang Termiskin Juga Kaya
Awal Juni 2004 koran –koran ibukota memberitakan kekayaan para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) dalam pemilihan presiden tahun 2004. Dalam berita itu disebutkan capres A adalah terkaya dan capre B adalah yang termiskin. Dalam tulisan ini tidak ada maksud untuk mempersoalkan beberapa kekayaan para capres itu, melainkan hanya akan dibahas penggunaan kata terkaya dan termiskin.
Bentuk dasar kata terkaya dan termiskin adalah kata kaya dan kata miskin yang berkategori ajektifa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kaya diberi makna ‘mempunyai banyak harta (uang)’; sedangkan kata miskin diberi makna ‘tidak berharta benda (serba kekurangan)’. Jadi kalau mengacu pada makna yang diberikan kamus tersebut, kata kaya dan kata miskin adalah dua buah kata yang berantonim, atau berkebalikan. Sama halnya dengan kata besar dan kecil, atau jauh dan dekat.
Dua buah bentuk ajektifa yang berantonim tidaklah bersifat mutlak, melainkan bersifat gradasi. Artinya, misalnya, orang yang tidak kaya belum tentu adalah orang miskin, dan orang yang tidak miskin belum tentu adalah orang kaya.
Akhirnya bisa disimpulkan dalam kaitan dengan makna kaya dan miskin dalam Kamus Besar Bahas Indonesia, memang capres A adalah orang terkaya bila dibandingkan dengan capres – capres lain, sedangkan capres B bukanlah orang miskin; hanya harta bendanya paling sedikit bila dibandingkan dengan harta yang dimiliki capres – capres lain. KIranya lebih tepat kalau tidak digunakan dikatomi kaya – miskin, melainkan dikatomi terbanyak dan tersedikit. Jadi, capres A orang yang terbanyak hartanya dan capres B orang yang tersedikit hartanya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Secara terus terang dapat dikatakan bahwa kita belum menggunakan Bahasa Indonesia secara optimal. Karena bentuk – bentuk ujaran yang beredar dalam masyarakat, secara pemahaman memang dapat dipahami dengan mudah, jelas, dan lugas, akan tetapi jika disesuaikan dengan logika bahasa, maka satuan makna bahasa tersebut tidak bisa menyatu dan dapat menimbulkan kesalahan pemahaman seperti pada contoh – contoh dalam pembahasan diatas.
Walaupun kita sudah mengetahui dalam bahasa Indonesia terdapat makna – makna leksikal, makna gramatikal, makna konstektual, dan makna idiomatikal, kita belum tentu dapat memahami suatu ujaran kalau kita belum tahu “makna” seseorang mengucapkan suatu ujaran. Yang oleh Verhaar (1978) makna yang berkenaan dengan maksud si pengujar disebut dengan istilah makna maksud. Sehingga untuk memahami makna sebuah ajaran atau satuan bahasa tertentu, dan juga untuk bisa menuangkan konsep (makna) ke dalam suatu ujaran (satuan bahasa), banyak hal yang harus dipahami.

3.2 Saran
Demikian masalah pemahaman dan logika bahasa yang memang cukup pelik, sehingga untuk kedepannya seorang terpelajar diharapkan menguasai kosa kata umum serta seperangkat peristilahan dibidang ilmu yang ditekuninya.
Oleh karena itu, mengingat pentingnya bahasa Indonesia bukan hanya sebagai salah satu identitas nasional, tetapi juga perananya dalam bernegara maka gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Yaitu bahasa yang cocok dengan situasi dan tempat penggunaannya. Semoga makalah ini memberi manfaat dan kotribusi dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa nasional kita, bahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2006. Bahasa Indonesia dalam Masyarakat: Telaah Semantik. Jakarta: Rineka Cipta.
Effendi, S. 1994. Panduan Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Jaya.
Waridah, Ernawati. 2008. EYD dan seputar kebahasa-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka.

0 comments:

Post a Comment